CANDRANAYA : Peninggalan Sejarah Berarsitektur Tiong Hwa Abad ke-19


Dok. PT Bumi Perkasa Permai/ Green Central City

Tentu Anda sudah tahu kalau kawasan Kota Tua di Jakarta Barat menyimpan beragam sejarah bernilai tinggi. Namun bila Anda datang kesana, cobalah untuk singgah ke Candra Naya yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Bangunan ynag terletak di Jalan Gajah Mada No. 188, Jakarta Barat ini, dahulunya adalah rumah seorang mayor China Khouw Kim An yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat China di Batavia pada zaman penjajahan.  Khouw Kim An lahir di Batavia pada tanggal 5 Juni 1879, dididik pada sekolah Hokkien namun fasih juga berbahasa Belanda. Ia merupakan salah seorang pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan Jakarta pada tahun 1900.  Pada tahun 1905 ia diberi pangkat lieutenant oleh pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian dipromosikan menjadi kapitein dan dua tahun setelah itu diangkat menjadi major pada tahun 1910. Karena pangkat terakhirnya, masyarakat pada masa itu menyebut bangunan ini sebagai Rumah Mayor.

 

Khouw Kim An adalah seorang masyarakat Cina, pengusaha dan bankir yang mewarisi rumah tersebut dari ayahnya Khouw Tjeng Tjoan. Menurut cerita ia baru menempati rumah tersebut pada tahun 1934, sebelumnya ia tinggal di Bogor. Khouw Kim An sendiri adalah menantu Poa Keng Hek seorang pemimpin masyarakat pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan, dan putra seorang kapten Cina. Khouw Kim An juga seorang pengusaha dan pemegang saham Bataviaasche Bank. Ia Dianugrahi penghargaan berupa medali oleh pemerintah Belanda atas jasa-jasanya pada masyarakat lokal. Khouw Kim An meninggal pada tanggal 13 Februari 1945, tidak lama setelah Jepang mendarat di Jawa pada tahun 1942.

 

Tidak lama setelah perang dunia berakhir pada hari Minggu 20 Januari 1946 didirikan perkumpulan Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru) yang bertujuan memberikan bantuan dan penerangan bagi orang yang membutuhkan pertolongan akibat perang dengan tugas mewakili masyarakat Tiong Hwa di Jakarta. Sejak awal berdirinya, Sin Ming Hui menyewa rumah mendiang Mayor Khouw Kim An sebagai gedung perkumpulan yang banyak digunakan untuk kepentingan sosial. Diantaranya adalah poliklinik (telah berkembang menjadi RS. Sumber Waras), Perkumpulan olah raga, pendidikan (sekolah Candra Naya, melahirkan Universitas Tarumanagara) dan Fotografi. Sejak tahun 1965 Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa menganjurkan masyarakat keturunan China untuk mengganti nama, setelah itu Sin Ming Hui diubah menjadi Candra Naya sehingga lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Gedung Candra Naya. Pada tahun 1993 kegiatan yayasan ini pindah ke Jl. Jembatan Besi. Dan mulailah proses perencanaan pembangunan mix used.

 

Kini Candra Naya telah menjadi cagar budaya bernilai sejarah tinggi yang dilindungi pemerintah, Dan berada dibawah naungan PT Bumi Perkasa Permai sebagai pengembang apartment Green Central City di kawasan tersebut. Sadar akan nilai sejarah yang tinggi, pengembang tetap melestarikan bangunan cagar budaya tersebut. Salah satunya adalah dengan membangun kembali bangunan teras samping yang sempat dibongkar pada waktu pembangunan Green Central City. Pembangunan kembali ini direncanakan selesai pada tahun 2011. Dengan adanya cagar budaya Candra Naya, pengembang berencana akan menjadikan icon utama bagi kompleks superblock Green Central City, sehingga akan menjadikan kawasan ini sebagai landmark Jakarta Kota berkonsep Modern Heritage living. “Fisiknya berupa Green Central City akan tetapi jiwanya terdapat di Candra Naya,” ujar Martono Hadipranoto, Chief Operating Officer Green Central City, dalam diskusi media Jum’at, 17 Juni 2011 lalu.

 

Saat ini cagar budaya Candra Naya tetap berdiri kokoh dengan peninggalan gaya bangunan berarsitektur Tiong Hoa lengkap dengan berbagai ornamen-nya. “Candra Naya, yang dipayungi hukum yaitu undang-undang noomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sangat menarik dikunjungi. Hal ini karena Candra Naya mempunyai ciri spesifik dari bentuk tata ruang serta arsitekturnya yang bergaya Tiong Hoa lengkap dengan berbagai ornamen yang mengandung arti bagi pemiliknya,” papar DR. Ir. Naniek Widayati, MT, Ars, arsitek senior dan pemerhati Candra Naya dari Centre of Architecture and Conservation.

 

Sebagai contoh dari gaya bangunan tersebut adalah dengan adanya ornamen buku, papan catur, kecapi dan gulungan lukisan yang terdapat pada balok di bawah kuda-kuda (skylight) dan teras depan. Beragam ornamen ini melambangkan pemilik rumah adalah seorang cendikiawan yang kaya raya, memahami ilmu pengetahuan dan seni. Selain itu adapula hiasan naga pada kuda-kuda yang berupa ukiran tiga dimensi bermotif abstrak yang disebut dengan liong. Sedangkan pada panel-panel pintu terdapat ukiran dua dimensi dengan bentuk naga sebenarnya yang dicat warna emas serta hiasan Jamur Linchi yang terdapat pada pintu masuk utama. Jamur ini melambangkan umur yang panjang. (AJE)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s